Banyak yang Ingin Leicester City Terdegradasi dari Liga Primer Inggris

Paul Merson mengatakan bahwa para fans sepak bola yang netral pasti ingin melihat Leicester City terdegradasi dari kompetisi Liga Primer Inggris musim 2016-2017 ini setelah para pemain berkualitas ‘rata-rata’ yang mereka miliki ‘menusuk pisau’ kepada sang mantan manajer Claudio Ranieri.

Leicester City yang merupakan juara bertahan Liga Primer Inggris musim 2015-2016 yang lalu ini mengumumkan pada hari Kamis (23/2) malam kemarin waktu setempat bahwa mereka sudah berpisah dengan manajer yang berhasil mengantar mereka menjadi juara Liga Primer Inggris tersebut, setelah dalam enam pertandingan terakhir klub berjuluk The Foxes ini selalu gagal memetik kemenangan maupun  mencetak satu gol pun dalam perjalanan mereka di ajang Liga Primer Inggris sejak pergantian tahun baru 2017 ini.

Akan tetapi, Merson yang juga merupakan pengamat sepak bola dari Sky Sports ini mengaku tidak senang dengan sikap dari para pemain Leicester City – maupun keputusan yang sudah dijatuhkan oleh para petinggi klub tersebut.

“Ini benar-benar lelucon,” kata Merson kepada Sky Sports News HQ.

“Saya pikir ini menjadi sesuatu yang menjijikkan, saya serius. Orang ini sudah menangani Leicester City dan berhasil meraih gelar juara Liga Primer Inggris,” lanjutnya.

“Dia sudah pernah bekerja sama dengan para pemain kelas dunia di sepanjang karirnya sebagai pelatih dan juga pernah menangani klub-klub yang besar. Dia punya senjata dan memainkan formasi 4-4-2, yang mana itu menjadi strategi yang tidak biasa di era modern ini di kompetisi Liga Primer Inggris, dan mereka berhasil meraih gelar juara liga domestik,” papar Merson.

“Dia berhasil membuat pemain berkualitas rata-rata menjadi pemain kelas dunia, banyak di antara mereka yang mendapat pujian untuk bisa meraih penghargaan Ballon d’Or dan hal yang lainnya, dan kemudian kau akan membaca di surat kabar bahwa mereka memberanikan diri untuk bertemu dengan pemilik klub dan berkata bahwa ada sesuatu yang tidak beres,” jelas pria berkebangsaan asal Inggris ini.

“Saya sudah pernah bermain sepak bola selama sekitar 20 tahun dan dalam mimpi paling liar yang pernah saya alami saya tidak akan pernah melakukan itu,” tegas Merson.

“Ini sungguh menyakitkan. Saya bisa ikut merasakannya, saya serius. Para pemain dengan kualitas biasa-biasa saja masuk dan menusukkan pisau ke punggung seorang manajer yang sudah membuat mereka menjadi para bintang,” tandas pria yang saat ini sudah menginjak usia 48 tahun ini.

Selain itu, dia juga menambahkan: “Kecuali kalau kau adalah seorang fans dari Leicester City, saya tidak melihat ada banyak orang di negara ini yang ingin melihat mereka bangkit dari sekarang ini,” tambah Merson.

“Tahun lalu, kami senang melihat mereka. Tahun ini, saya pikir semua orang pasti ingin agar mereka terjungkal,” beber pria kelahiran kota Harlesden, London, tersebut.

Sementara itu, mantan pemain Leicester City Roberto Mancini, yang tercatat pernah menajdi pelatih dan mengantarkan Manchester City meraih gelar juara Liga Primer Inggris pada tahun 2012 yang lalu, menjadi salah seorang kandidat yang paling kuat yang bisa menggantikan posisi Ranieri tersebut.

Akan tetapi, Merson mengaku tidak sepakat dengan kabar tersebut. Menurut mantan pemain tim nasional (timnas) Inggris ini mereka membutuhkan sosok seseorang yang memiliki kemampuan spesial untuk bisa bertahan di kancah Liga Primer Inggris, seperti yang sudah Crystal Palace lakukan ketika mereka menunjuk manajer baru Sam Allardyce pada bulan Desember tahun 2016 yang lalu.

“Orang-orang membahas tentang Mancini, akan tetapi dia tidak pernah berada dalam ancaman zona degradasi,” terang Merson.

“Kau harus bisa mendapatkan seorang pelatih yang pernah ada di sana. Orang yang menurut saya memiliki kemampuan dan mental seperti Sam Allardyce. Saya tahu kondisi Crystal Palace, akan tetapi mereka tidak akan semakin terjungkal bersama dengan Sam Allardyce sebagai manajernya, percaya pada saya. Menurut saya, itu menjadi taruhan yang paling besar,” jelas mantan pemain yang pernah memperkuat Arsenal selama tahun 1985 sampai tahun 1997 yang lalu tersebut.

“Mereka akan terus merangkak naik karena ada Sam Allardyce di sana. Ketika mengalami tekanan, pada akhir musim ini dia akan memasang 10 pemain di belakang ketika tampil di kandang dan memetik hasil imbang dengan skor 0-0. Sedangkan manajer yang lain tidak akan melakukan itu dan malah berpikir ‘Saya harus menyerang, menyerang, dan menyerang,’” beber Merson.

“Ini akan menjadi satu keputusan besar yang akan diambil, karena saya pikir mereka juga akan terdegradasi, “ pungkasnya.

Marco
Marco
Penulis blog yang keahliannya adalah menuliskan prediksi tentang sepakbola yang sangat berpengalaman dibidangnya. Dikarenakan oleh hobi kecilnya yaitu bermain sepakbola maka dari itu dia bisa menjadi penulis prediksi yang benar-benar menganalisa dengan teliti setiap menuliskan prediksinya.